Pengakuan Anak Dalam Hukum Perdata (bag.1)

Lembaga pengakuan anak dalam hukum perdata diatur dalam Pasal 272 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dimana dikemukakan bahwa anak diluar kawin (natuurlijk kind), kecuali yang dilahirkan dari perzinahan atau penodaan darah, tiap-tiap anak yang lahir diluar perkawinan apabila bapak dan ibunya melaksanakan perkawinan, maka anak tersebut menjadi anak sah jika bapak sebelum melaksanakan perkawinan, mengakuinya menurut undang-undang, atau pengakuan itu dilakukan dalam akta tersendiri. Kemudian dalam Pasal 280 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dinyatakan bahwa dengan adanya pengakuan anak diluar kawin sebagaimana tersebut diatas, maka timbullah hubungan perdata antara anak luar kawin itu dengan bapak dan ibunya sebagai anak yang sah lainnya.

Untuk memperoleh status hubungan antara ayah, ibu dan anak yang lahir diluar nikah, maka anak tersebut harus diakui oleh ayah dan ibunya. Pengakuan itu harus diakui dengan akta yang (more…)

Read More

Tentang Pengakuan dan Pengesahan Anak (bag.2)

Apabila anak luar kawin di akui oleh ayahnya, maka memperoleh status anak sah. menurut hukum perdata Belanda sebagaimana tersebut dalam pasal 214 N-BW, pengesahan itu dapat terjadi karena (1) pernikahan ibu dan bapak dari anak tersebut; (2) pengangkatan oleh suami ibunya dalam jangka waktu perkawinan mereka; (3) pengakuan oleh suami ibunya setelah perkawinan putus karena kematian ibunya. Kemudian dalam Pasal 214 N-BW juga disebutkan bahwa pengesahan dapat terjadi karena ” surat pengesahan”. Permohonan surat (more…)

Read More

Tentang Pengakuan dan Pengesahan Anak (bag.1)

Perlindungan hukum yang dapat diberikan kepada anak luar kawin sebagaimana tersebut di atas agar terlepas dari beban kehidupan yang berat adalah dengan jalan pengakuan, pengesahan, dan pengangkatan. Sementara Peraturan Pemerintah sebagaimana yang tersebut dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang akan mengatur tentang nasib anak diluar kawin sampai saat ini belum diterbitkan. Dalam rangka unifikasi hukum yang bertolak kepada wawasan Nusantara dan wawasan Bhineka Tunggal Ika, maka sebaiknya perlu dipikirkan tentang lembaga pengakuan dan pengesahan anak diluar kawin guna menaikkan harkat dan martabatnya sebagai manusia ciptaan Allah SWT.

Menurut Erna Sofwan Syukrie dalam pengertian formil (more…)

Read More

Tentang Anak di Luar Kawin (bag. 2)

Dalam hukum Islam, melakukan hubungan seksual antara pria dan wanita tanpa ikatan perkawinan yang sah di sebut Zina. Hubungan seksual tersebut tidak dibedakan apakah pelakunya gadis, bersuami atau janda, jejaka, beristri atau duda sebagaimana yang berlaku pada hukum perdata. Ada dua macam istilah yang digunakan bagi Zina, yaitu (1) Zina muhson, yaitu Zina yang dilakukan oleh orang yang telah atau pernah menikah, (2) Zina ghairu muhson, yaitu Zina yang di lakukan oleh orang yang belum pernah menikah, merka berstatus perjaka/perawan. Hukum Islam tidak menganggap bahwa Zina ghairu muhson yang dilakukan oleh bujang/perawan itu sebagai perbuatan biasa, melainkan tetap dianggap (more…)

Read More

Tentang Anak di Luar Kawin (bag. 1)

Anak di luar kawin adalah anak yang di lahirkan seorang perempuan, sedangkan perempuan itu tidak berada dalam ikatan perkawinan yang sah dengan pria yang menyetubuhinya. Sedangkan pengertian diluar kawin adalah hubungan seorang pria dengan seorang wanita yang dapat melahirkan keturunan, sedangkan hubungan mereka tidak dalam ikatan perkawinan yang sah menurut hukum positif dan agama yang di perlukan.

Dalam praktik hukum perdata pengertian anak luar kawin ada dua macam, yaitu : (more…)

Read More